BASMALAH

BASMALAH

RENUNGAN HATI

"Betapa anehnya bumi, semuanya adalah pelajaran. Ku kira tidak ada sejengkal tanah di muka bumi kecuali di situ ada ibrah (pelajaran) bagi orang yang berakal apabila mau mempelajarinya".

"HIDUP TERUS BERBAKTI"

"TOLONG MENOLONGLAH KAMU DALAM PERKARA KEBAIKAN DAN KETAQWAAN, DAN JANGAN SESEKALI KAMU TOLONG-MENOLONG DALAM PERKARA DOSA DAN PERMUSUHAN".

2/21/2010

Cing Ai Ching Ai

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

Arkib Blog

SENI BERDAKWAH

Seorang dai yang menyeru ke jalan Allah Ta’âla hendaknya menyampaikan dakwahnya kepada masyarakat dengan cara yang mudah dan sederhana. Hendaknya ia memilih tema yang sesuai bagi mereka, memilih kalimat yang tidak membangkitkan nafsu, tapi yang mendekatkan mereka kepada Allah. Hendaknya ia memilih kalimat yang dapat menyucikan nafs dengan cepat, bukannya ucapan yang memberatkan mereka, yang mereka anggap berat dan sulit. Seorang dai seharusnya mendahulukan yang lebih penting menurut waktu, zaman dan keadaan masyarakat saat itu. Ia harus memperhatikan masalah yang lebih besar dan penting, memperhatikan semua yang fardhu dan kewajiban-kewajiban utama lainnya.

Dakwah dengan tema di atas akan sukses jika metode yang digunakan tidak menyebabkan orang lari dan tidak mempersulit. Dakwah sebaiknya dilakukan dengan memberikan himbauan (targhib) dan juga ancaman (tarhib), sebagaimana dijelaskan dalam berbagai hadis.

Jika berdakwah kepada para pemula, bila mengajak mereka untuk mengerjakan kebaikan, jangan sekali-kali memaksa, jangan menyampaikan permasalahan-permasalahan yang tidak dapat dipahami dan dianggap berat oleh mereka. Sebab, sesuai tabiatnya, nafs akan lari jika merasa keberatan. Dan jika nafs lari, ia akan menentang dan memusuhi kebaikan, kemudian mencari pembenaran (justifikasi) bahwa perbuatannya sesungguhnya baik. Jika pemula memandang ucapan dai tersebut keras, terlalu berat dan tidak mampu ia laksanakan, maka nafs-nya akan memberontak.

Bicaralah kepada manusia sesuai dengan tingkatan pemikiran (pendidikan) mereka. Jika berbicara dalam suatu majelis yang dihadiri oleh orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, jangan berkata, “Celakalah orang-orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, nerakalah tempat mereka.” Ucapan semacam ini akan membangkitkan hawa orang yang durhaka tadi sehingga ia akan menentangnya. Akan tetapi hendaknya kita berkata, “Allah Ta’âla berfirman :

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu tidak menyembah selain-Nya dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS Al-Isra, 17:23)

“Perhatikanlah, bagaimana Allah yang Maha Mulia memberikan wasiat kepada kita, bagaimana Ia menunjukkan kedudukan kedua orang tua. Orang tua memiliki hak dan kedudukan yang agung. Orang yang berbakti kepada keduanya akan memperoleh berbagai kebaikan. Nabi telah memperingatkan kita agar tidak durhaka kepada kedua orang tua. Beliau bersabda begini dan begini.” Jika dakwah disampaikan dengan cara demikian, maka akal dan nafs akan mendengarkan dan nafs tidak akan memberontak.

Dalam ucapan kaum sholihin dan guru-guru kita, banyak kita temukan ucapan-ucapan yang keras, tapi masyarakat menerimanya. Sebab, mereka memiliki hâl dan maqôm yang agung. Jika ucapan itu muncul dari orang lain, masyarakat tidak akan menerimanya dan akan menganggap terlalu berat untuk dilaksanakan. Namun, karena mereka yang mengucapkannya, maka masyarakat mau menerimanya.

Sebagai dai yang masih awam, kita jangan menempatkan diri kita di kedudukan kaum khowwâsh, seperti Habib Alwi bin Syihab, Habib Abdullah bin Umar Asy-Syathiri, ayahku Sayid Muhammad bin Salim atau kaum sholihin terkemuka lainnya. Mereka kadang kala menyampaikan ceramah-ceramahnya dengan keras. Meskipun demikian, ucapan mereka meninggalkan kesan dalam hati pendengarnya. Sebab, mereka memiliki hâl dan maqôm yang mendukung dan masyarakat yang mau menerimanya. Adapun orang-orang seperti kita ini, sebelum berbicara kita wajib memperhatikan dan menyederhanakan pesan yang akan kita sampaikan. Jika ada kata-kata yang sulit, hendaknya kita ganti dengan kata-kata yang mudah dipahami. Sebagai contoh, jika hendak mencegah seseorang dari memutuskan hubungan kekerabatan, jangan berkata, “Di majelis ini ada seseorang yang memutuskan hubungan kekerabatan.” Atau berkata, “Dewasa ini tidak seorang pun yang tidak memutuskan hubungan kekerabatan. Maka mereka semua terkena laknat.”

Meskipun ucapan ini mengandung kebenaran, tapi masyarakat tidak akan menerimanya. Kita tidak boleh berkata demikian, tetapi sebaiknya kita berkata, “Marilah kita perhatikan kerabat kita, marilah kita raih pahala lewat mereka, marilah kita usahakan agar hubungan kekerabatan menjadi sebuah nikmat. Jika kalian mau menundukkan nafs lalu menyambung tali silaturahmi dan berbuat baik kepada mereka, maka kabar gembira bagi kalian, kalian akan memperoleh umur yang panjang dan rezeki melimpah. Sebab, Nabi saw bersabda :

“Silaturahmi memperbanyak harta dan memperpanjang umur.” (HR Bukhari dan Muslim)

Kalian hendaknya menggunakan kalimat-kalimat seperti ini. Jika dakwah disampaikan dengan cara demikian, maka semua orang akan menerimanya. Ucapan kalian menjadi baik dan mudah diterima oleh nafs. Sebenarnya tujuan orang menyampaikan dakwah dengan keras adalah juga untuk menyeru manusia ke jalan Allah, tapi caranya tidak benar. Karena itulah Allah berfirman kepada Nabi kita Muhammad saw :

“Karena rahmat Allah-lah kamu dapat berlaku lemah lembut kepada mereka. Sekiranya kamu bersikap kasar lagi berhati keras, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS Ali Imran, 3:159)

Pendakwah mesti kreatif, proaktif

ISLAM adalah agama yang lengkap. Nabi Muhammad saw dibentuk peribadinya dalam tempoh 23 tahun untuk menjadi contoh umat sezamannya dan terkemudian. Baginda mempunyai qudwah atau contoh sempurna untuk dijadikan sumber ikutan. Kualiti maksum yang ada pada Rasulullah menjadi sebaik-sebaik contoh pesuruh yang memiliki kecacatan sifar yang membolehkan manusia meneladaninya dengan baik.


Qudwah Rasulullah menghubungkan Islam sebagai agama dakwah dan tarbiah. Jalan dakwah dan tarbiah ini pula menempuh banyak dugaan dan cabaran.

Pendakwah terdahulu diuji dengan pelbagai bentuk ujian, tetapi kesabaran mereka dalam menyatakan yang hak, amat luar biasa. (Watawa saubil haq watawa saubis sabr).

Dustur atau rukun dakwah yang berasaskan bil hikmah wal mauizatil hasanah, wajadilhum billati hia ahsan sentiasa menjadi obor kekuatan dalam membina uslub antara gagasan yang besar dengan hakikat yang serba bejat dan mencabar.

Mereka melakukan olahan bijaksana, menekuni bidang keilmuan yang pelbagai, menampilkan contoh sahsiah yang dihormati dan mampu menampilkan jalan alternatif yang sezaman sifatnya. Dengannya wawasan besar Islam dapat disuburkan secara teratur dan berkesan.

Namun, sepanjang zaman itu juga ada pemeluk Islam bangun dalam orientasi atau suasana dewasanya dengan sentuhan ilmu, rempuhan pemikiran, corak amalan dan budaya hidup yang tidak serasi dengan faham Islam yang syamil atau sempurna.

Ada umat Islam yang syahadahnya Islam, tetapi jelmaan amalnya banyak yang bercanggah dengan roh syahadah yang begitu hebat maknanya. Ada umat yang istiqjal atau gopoh, yang mahukan umat berubah ke arah lebih baik dalam masa segera. Sayangnya, pendekatannya tidak mengambil kira faktor tahap kefahaman seseorang, latar pendidikan dan suasana di mana seseorang itu berada.

Ia menuntut pendekatan atau metodologi bagaimana usaha dakwah dan tarbiah dapat dilakukan supaya pintu minda dapat diketuk dengan kalimah kebenaran.

Begitu juga, pintu hatinya dapat diresapi dengan risalah murni yang membawanya kembali kepada fitrah.

Jalan dakwah itu penting diambil. Hal itu supaya di celah-celah lopak pertentangan politik kepartian, faham kelompok dalam jemaah, di tengah-tengah simpang siur globalisasi dan pengaruh media cetak serta elektronik yang serba menghambat, terbina jalan mengajak manusia kepada wehdah atau kesatuan umat secara bijaksana.

Di tengah-tengah kemelut manusiawi yang pelbagai, tersebar kalimah tarbiah disuburkan di hati insan supaya lahir perasaan kasih sayang dan belas kasihan yang tinggi. Hal ini bakal mendorong daie dan murabbi mendekati hati yang mati dan rasa yang sudah binasa.

Kemungkaran dari sudut seorang daie dan murabbi atau pendakwah dan pendidik perlu jelas. Tetapi, jiwa daie dan murabbi yang memiliki belas kasihan dan kasih sayang yang tinggi akan sentiasa mencari jalan terbaik bagaimana hati-hati yang mati didekati. Begitu juga bagaimana rasa yang binasa dihidupkan semula.

Kesabaran kental dalam menyatakan kebenaran dan hak serta kebijaksanaan dalam mendekati pelaku kemungkaran dan mengolah strategi akan mengukuhkan perjuangan dakwah.

Bayangkan seseorang daie dan murabbi tidak memiliki rasa kasih sayang dan belas kasihan yang tinggi yang menyebabkan terputusnya tali-temali dakwah. Begitu juga kebencian mereka terhadap perbuatan seseorang sama seperti kebencian terhadap orangnya.

Jika ini keadaannya, pasti perubahan sukar untuk berlaku dan kemungkaran akan terus bermaharajalela.

Hakikatnya, meskipun Islam itu agama sempurna, tetapi pemeluknya mempunyai banyak kekurangan. Ada yang memahami Islam sebagai agama rohaniah semata-mata, tanpa menghubungkan agama itu dengan tanggungjawab keilmuan, membangun keluarga, taklif sosial, amanah pendidikan dan sebagainya. Ia tidak menampilkan Islam sebagai suatu cara hidup yang boleh dicontohi.

Akhirnya, kepincangan umat akan berterusan kerana kecenderungannya lebih banyak terhadap perkara asas dan ketidakmampuan mengembangkan faktor asas supaya natijahnya membangun sistem.

Daie dan murabbi harus memiliki ilmu asas Islam secara baik. Dirinya harus menjadi contoh dalam hal kebijaksanaan, kesabaran, tasamuh atau tolak ansur. Ia juga perlu memiliki pengertian mendalam mengenai keperluan manusia dikembali dan dikekalkan dalam keadaan fitrah.

Perkara itu bertambah penting, pada era teknologi maklumat dan telekomunikasi yang kepentingan alat lebih banyak digunakan bagi mengembangkan maklumat dan alat perhubungan. Namun, hakikatnya ia belum tentu mampu membangun minda manusia, menunjuk jalan kebenaran atau memberi keinsafan terhadap pentingnya budaya pesan memesan ke arah kebaikan dan kemakrufan serta budaya tukar menukar maklumat untuk mendekatkan manusia kepada Tuhannya.

Oleh itu, pendakwah dan pendidik mesti bersedia untuk mengharungi cabaran dan ujian yang lebih getir. Hal ini kerana kesyumulan Islam tidak akan dapat diterjemah tanpa tekad tinggi semua pihak bahawa cabaran globalisasi adalah besar sekali.

Ia dapat dilakukan dengan tekad dakwah tinggi dan sifat murabbi yang dapat dicontohi, terutama yang mampu menjadi daya tarik umat, khususnya generasi muda ke arah pemikiran yang lebih fitrah dan budaya hidup yang lebih terarah.

Ia menuntut pengolahan dan pendekatan dakwah kreatif dan proaktif kerana minat di kalangan sasaran hari ini berubah dengan pesatnya.

Di kalangan daie dan murabbi seharusnya bersedia terjun ke tengah-tengah gelanggang menangani cabaran yang sebenar, bukan sekadar mengungkapkan gagasan Islam yang besar.

Tetapi tidak dapat difahami oleh sasaran, khususnya generasi muda yang jurang kefahamannya dengan pengaruh sekitarnya yang cukup membimbangkan. Di sini, letaknya kebijaksanaan dan kesabaran pendakwah dan pendidik merancang lantaran musuh Islam, bukan saja merancang, malah sedang melaksanakannya.

Modal insan bermutu tuntut sahsiah tinggi

PEMBANGUNAN modal insan adalah agenda utama Malaysia dalam perancangan menjadikan Malaysia negara maju memenuhi matlamat Wawasan 2020 yang meletakkan Malaysia maju dalam bidang sains dan teknologi berasaskan acuan sendiri.

Pada Rancangan Malaysia Kesembilan, faktor modal insan menjadi agenda utama dalam menentukan pembangunan Malaysia yang mementingkan ilmu dan kepakaran untuk mencapai tahap negara maju.

Modal insan yang berkualiti tidak sekadar mempunyai ilmu dan kepakaran, keahlian dan profesionalisme tinggi, tetapi mendukung sahsiah tinggi. Sahsiah tinggi penting dihayati kerana jenis cabaran dalam bidang masing-masing tidak saja sifatnya intelektual, teknikal dan profesional tetapi menuntut kualiti amanah, adil, telus dan tulus pada diri.

Modal insan berkualiti tidak saja terbabit dengan kerja mekanikal, profesional dan saintifik tetapi memerlukan etika dan nilai supaya urusan menjadi tulus dan telus. Modal insan yang terbabit dengan salah tadbir, rasuah, mementingkan diri sendiri, oportunis umpamanya tidak akan menjadikan organisasinya cemerlang.

Amalan salah menjadi belenggu dirinya. Dirinya tidak ada kemerdekaan kerana perbuatannya bakal merosakkan negara dan sistem. Amat penting kesedaran etika dan nilai dikaitkan keyakinan bahawa Allah SWT melihat dan menyaksikan apa yang berlaku.

Asas ihsan ini penting dalam melaksanakan amanah pengurusan. Dalam Islam amanah pengurusan ialah suatu ibadat. Melaksanakan sesuatu atas niat ibadat dan apabila melakukannya yakin akan penyaksian Allah SWT mempunyai daya dorong tinggi untuk berlaku jujur dan ikhlas. Inilah asas ihsan yang menjadi tunggak dalam menguruskan sesuatu.

Membina kualiti ihsan membangunkan modal insan adalah penting. Al-Quran ada menyebut kecemerlangan insan dilihat pada takwanya (Surah al-Hujurat, ayat 13) sebagai asas menjadikan manusia insaf bahawa sesuatu yang berjalan dan berlaku sentiasa terhubung dengan Allah SWT.

Insaf ketuhanan menjadi faktor penting menyebabkan etika dan nilai berjalan. Ia dapat memerdekakan diri manusia daripada melakukan perkara tidak baik.

Kemerdekaan serta pembangunan modal insan memerlukan ilmu dan nilai. Pembangunan modal insan tidak hanya cukup dengan latihan yang sifatnya mekanistik. Upaya mekanistik akan menjadi lebih bermakna jika asas nilai dan pedoman bersamanya.

Baik ia seorang saintis, pakar teknologi dan seumpamanya, keperluan terhadap nilai baik dan pedoman berguna adalah sesuatu yang tidak dapat dielakkan. Apalagi. jika nilai itu datangnya daripada al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW.

Kemerdekaan dalam erti kata luas ialah membebaskan manusia daripada belenggu perasaan rendah diri, malas terhadap kerja, cuai terhadap tanggungjawab, lebih kurang dalam pengurusan, tidak menepati waktu, tiadanya muafakat dalam membuat keputusan, kualiti dan produktiviti.

Membebaskan belenggu itu harus dihubungkan dengan ganjaran lebih besar mengenai kerja dan tanggungjawab. Jika kerja dihubungkan dengan amanah dan tanggungjawab, lonjakannya akan lebih hebat.

Seseorang tidak akan hanya bekerja kerana rutin untuk mendapatkan gaji tetapi kerja dilihat sebagai tempat melakukan ibadat dalam erti kata luas. Menepati waktu, rasa kepunyaan dan kekitaan terhadap organisasi, jujur terhadap tugas dan tanggungjawab, serius dalam melaksanakan amanah kerja, kualiti dan produktiviti dijadikan keutamaan adalah gambaran bagaimana kualiti modal insan yang berjiwa merdeka dan memiliki daya ihsan tinggi.

Pembangunan modal insan di negara kita perlu mengambil pendekatan intergratif dalam proses pengilmuan dan pendidikan. Pendidikan intergratif menjadikan asas nilai dan etika sebagai sumber utama dan ia diharap dapat membentuk watak pekerja yang sentiasa mengaitkan asas nilai dan etika dengan apa saja jenis pekerjaan dilakukan.

Pekerja Islam umpamanya, tidak harus ada masalah melakukannya. Keyakinan tinggi terhadap Allah adalah faktor utama yang memberikan daya kawalan manusia supaya tidak terbelenggu dengan niat dan cara bercanggah dengan konsep amanah serta telus.

Keyakinan kepada Allah menjadi penggerak dan pendorong manusia melakukan sesuatu. Apabila nilai dan etika Islam sebati dalam niat dan amalan, maka manifestasi amal akan berjalan seiring. Lebih-lebih lagi bagi mereka yang faham makna dosa dan pahala, halal dan haram akan dapat membezakan yang mana satu amalan baik atau sebaliknya.

Membelenggu diri dengan amalan salah berkait rapat dengan rezeki diterima. Rezeki yang diterima mungkin tidak halal dan tiada berkatnya apabila dibawa balik ke rumah. Jika keinsafan ini ada bagi setiap orang Islam, dengan sendirinya apa saja pekerjaan dilakukan dikaitkan dengan ibadat.

Insan beriman yakin bencana peringatan Tuhan

BENCANA tsunami di beberapa negara di Asia dan Afrika akhir tahun lalu serta terbaru Taufan Katrina yang melanda Amerika Syarikat dilihat oleh sesetengah orang sebagai bencana alam. Bagi orang beriman, faktor alam tidak boleh dipisahkan dengan faktor Pencipta. Sesuatu kejadian yang berlaku tentu bersebab dan ada hikmah di sebaliknya bagi orang yang mahu merenung dan berfikir.

Perjalanan alam ini adalah suatu sunnah Allah bukannya sunnah alam. Sunnah Allah menghubungkan kejadian dengan Pencipta dan Pengaturnya. Sunnah alam tidak menghubungkan manusia dengan Pencipta, malah ia terjadi dengan sendiri. Tidak mungkin alam itu terjadi dengan sendiri seperti tidak mungkin kereta, kapal terbang dan kapal laut bergerak sendiri. Semuanya dipandu dan digerakkan oleh manusia.

Tetapi manusia tidak mampu menggerakkan bintang dan mengawal sistem solar, apa lagi mengatur perjalanan sistem galaksi yang amat raksasa, melainkan ada suatu kuasa yang amat Perkasa mengaturkan semuanya itu. Ia dirujuk kepada kuasa Pencipta iaitu Allah.

Allah menggambarkan perkara ini dalam firman-Nya bermaksud: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang belayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu Allah hidupkan bumi sesudah mati (kering), dan Allah sebarkan di bumi itu segala jenis haiwan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. Itulah tanda kebesaran Allah bagi mereka yang memikirkan." (Surah al Baqarah, ayat 164)

Al-Quran tidak dituntut untuk diimani sebahagiannya dan tidak diimani sebahagian yang lain. Kisah dalam al-Quran, peristiwa dirakamkan, peringatan diberi dan khabar gembira diutarakan serta batasan yang dijadikan pedoman dan prinsip yang dijadikan ikutan adalah cerminan keseluruhan daripada proses pengwahyuan yang perlu diimani oleh manusia. Setiap yang dirakamkan dalam al-Quran membawa maksud dan hikmah tertentu untuk manusia berfikir dan renung. Ia supaya daripada semuanya itu manusia mendapat pengajaran dan iktibar.

Peristiwa Israk dan Mikraj adalah suatu ketentuan Allah terhadap hamba yang terpilih.

Saat kejadian itu terhadap Rasulullah SAW ialah ketika Baginda dihimpit tekanan dan cabaran pedih daripada kelompok penentang yang ingin memadamkan cahaya Allah dan bertekad menghapuskannya dari bumi.

Oleh kerana Nabi Muhammad adalah manusia pilihan Allah untuk membawa suatu risalah besar untuk umat manusia, maka tentu Allah memiliki kekuasaan untuk melakukan apa saja. Bagi orang yang tidak beriman, peristiwa ini dianggap sebagai sesuatu yang lucu dan tidak masuk akal. Tetapi, bagi mereka yang beriman meyakini bahawa Rasulullah bukan seorang pendusta.

Seperti juga apabila berlaku peristiwa tsunami di Aceh, bagi orang beriman, ia diterima dengan penuh keinsafan dan iktibar bahawa kuasa Allah itu mengatasi segala-galanya. Bagi yang tidak beriman, terus bertanya mengapa ia berlaku di suatu tempat di mana orangnya bersembahyang dan beriman kepada Allah. Apa yang Allah tahu tidak sama seperti apa yang manusia tahu. Hikmah di sebalik kejadian kadang-kadang tidak mampu diselami oleh mereka yang tidak beriman.

Tsunami adalah bukti nyata berlakunya kiamat kecil kepada manusia seperti kematian yang juga kiamat kecil kepada setiap insan. Al-Quran memberikan peringatan mengenai kiamat yang sebenar. Gambaran kiamat itu tentunya membabitkan semua, tidak kira apa kedudukan kita pada sisi Allah dan apa suasana pun kita berada ketika kiamat berlaku. Hal ini kerana ia adalah ketentuan Allah. Bagi yang beriman dan beramal salih, Allah akan memberikan tempat setimpal di akhirat nanti. Bagi yang ingkar, sombong dan melampau batas Allah akan memberikan balasan setimpal seperti yang dijanjikan-Nya.

Hal yang sama berlaku terhadapTaufan Katrina yang amat dahsyat menimpa penduduk di Amerika Syarikat. Kalaulah manusia dikatakan memiliki kekuatan meramal dan mengatasi bencana, Allah tunjukkan bagaimana faktor sunnatullah atau ketentuan Allah mengatasi keupayaan teknologi dan saintifik yang dimiliki oleh manusia.

Sebesar mana suatu kuasa manusia, akhirnya terpaksa tunduk terhadap ketentuan Pencipta.

Selagi mana manusia ingkar terhadap sunnatullah dan tidak mengambil iktibar daripadanya, maka selagi itulah manusia tidak akan belajar daripada sifat angkuhnya sendiri. Begitu juga tidak mendapat hikmah daripada sesuatu kejadian.

Firman Allah bermaksud: "Allah menimpakan angin itu kepada mereka (kaum Aad dan Tsamud) selama tujuh malam dan lapan hari terus menerus, maka kamu lihat kaum Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk)." (Surah al-Haaqqah, ayat 7)

Peristiwa Israk dan Mikraj juga adalah ujian Allah kepada manusia. Bagi yang beriman mengukuhkan lagi imannya kepada Allah. Bagi yang ingkar menambahkan keingkarannya kerana bagi yang ingkar mereka tidak percaya kepada yang ghaib. Logik akal mereka hanya bersandarkan kepada sesuatu yang nampak pada penglihatan dan pemandangan mereka. Sedangkan sunnatullah ada pada yang nampak dan ada pada yang manusia tidak nampak. Allah memiliki kekuasaan menampakkan sesuatu untuk manusia percaya dan tidak menampakkan sesuatu untuk manusia percaya.

Sedangkan Allah memiliki kekuasaan menghadirkan yang wujud dan tidak setiap yang wujud mesti maujud atau terlihat dengan nyata.

Roh, umpamanya, wujud pada diri manusia dan tidak maujud seperti adanya tangan dan kaki. Tetapi tangan dan kaki tidak akan bergerak tanpa adanya roh yang memberi hayat kepada manusia. Roh itu bukan milik manusia dan bukan urusannya. Kalaulah roh itu milik manusia dan urusannya, maka roh boleh kekal pada tubuh manusia selama-lamanya.

Oleh kerana roh itu adalah urusan Allah, maka setakat mana roh itu perlu berada pada tubuh manusia ia adalah hak Allah bukan hak manusia. Allah boleh mengambilnya bila-bila masa tanpa meminta izin daripada manusia.

Lenyap kasih sayang punca krisis generasi

RASULULLAH SAW apabila ditanya oleh seorang sahabat mengenai siapa lagi yang harus dipatuhi selepas Allah dan Rasul menyebutkan, Ibumu! Ibumu! dan Ibumu!

Tiga kali ulangan terhadap ibu membayangkan ibu adalah watak penting dalam kehidupan manusia dan keluarga. Tentu ada kekuatan pada ibu yang menyebabkan Rasulullah SAW berkata demikian.

Rasulullah dalam hadisnya menyebutkan juga bahawa,"syurga adalah di bawah tapak kaki ibu." Ia terkandung maksud yang amat besar kepada anak bagi kesejahteraan di dunia dan akhirat.

ibumithali.jpg

Pada diri ibu ada unsur penting dalam proses didik, asuhan, kasih sayang, kesabaran dan memiliki kasih sejati terhadap anak. Mana tidaknya, ibulah yang mengandung anak dengan susah payah selama lebih sembilan bulan. Ibulah yang melahirkan anak dalam kesakitan dan kepedihan. Ibu jugalah yang bangun pada tengah malam menyusukan anak dan menyalin lampin anaknya.

Ibu sebagai pelengkap kepada watak bapa menjadi faktor penting dalam proses pembangunan zuriat, anak dan generasi. Kualiti keibuan sifatnya unik kerana kelembutan dan kasih sayang ibu mendekati anak memiliki upaya didik menyuburkan watak dan peribadi.

Ibu yang berilmu dan berketrampilan dalam memahami proses pertumbuhan dan pembesaran anak baik dari sudut minda, psikologi, emosi dan tabiat, memiliki cara dan kaedah berkesan bagaimana anak harus diremaja dan didewasakan.

Apakah ibu pada masa kini dalam ruang peranan baru hadir di pejabat, kesibukan melakukan kerja pengurusan dan profesional sepanjang hari, mempunyai masa berkualiti dengan anak?

Memadaikah dengan peranan "bibik" atau pembantu untuk memindahkan jiwa keibuan dan budaya keluarga kepada anak. Apabila masa berkualiti ditumpukan di pejabat atau di luar rumah, adakah masa yang berbaki untuk anak.

Keluarga yang melihat hari depan yang baik ialah keluarga yang berasakan anak adalah aset. Anak adalah harta bernilai dan tidak boleh ditukar ganti dengan wang. Apabila kita meninggal nanti, anak yang salih menjadi faktor penting menghubungkan yang pergi dan masih tinggal.

Anak yang diberi makan-pakai yang cukup tidak bermakna sudah sempurna tanggungjawab dilakukan oleh ibu. Makan-pakai adalah perkara asas bagi meneruskan kehidupan, tetapi kasih sayang dan kemanjaan penting untuk membentuk watak dan perangai.

Anak yang tidak mendapat kasih sayang serta kemanjaan daripada ibu akan mencari sumber lain untuk meluahkan perasaan sunyi dan bosan bagi mendapatkan perhatian. Naluri ingin tahu yang tinggi dan sikap aktif anak akan tertumpah kepada rakan sebaya dan juga kepada sumber yang tidak fitrah. Akhirnya, anak tidak belajar daripada ibunya, tetapi belajar daripada orang atau sumber lain.

Bayangkan jika ibu asyik mengejar harta, mengumpul kekayaan saja dan mengabaikan tanggungjawab untuk mendidik serta mengasuh anak. Memadaikah ratusan ribu ringgit yang terkumpul untuk menebus "kehilangan" diri anak yang terjebak dengan salah guna dadah, berada di pusat serenti, terbabit kegiatan "mat rempit" atau terimbau dengan penyakit Aids/HIV.

Harga memberikan kasih sayang, belaian, pemerhatian dan bimbingan terhadap anak amat tinggi nilainya. Lebih-lebih lagi dalam tempoh kritikal sejak lahir hingga ke akil baligh, anak memerlukan tapak tabiat, perangai dan peribadi yang teguh dan kukuh supaya memiliki kekebalan bagi menghadapi cabaran negatif dalam perjalanan hidupnya.

Asas inilah disebutkan Rasulullah SAW bahawa anak lahir dalam keadaan fitrah. Kedua ibu bapalah yang bakal menentukan arah tuju kehidupan anak.

Anak hari ini secara fizikalnya amat aktif. Secara mindanya anak mempunyai naluri ingin bertanya yang tinggi. Anak memerlukan pujian dan apresiasi bila melakukan sesuatu yang membawa kepada kemajuan dan kejayaan.

Anak juga memerlukan contoh supaya hidupnya terbimbing. Apakah ibu memiliki kualiti ini dan sesuai pula dengan zaman. Pada hari ini anak terdedah dengan benda dan perkara mencabar dari dunia cetak dan elektronik.

Rasa selesa dilalui kebanyakan keluarga menyebabkan anak muda mempunyai kecenderungan berfoya-foya. Rasa kesempitan ditanggung sesetengah keluarga menyebabkan anak terbiar dan terjebak dalam amalan salah guna dadah dan pergaulan bebas membawa kepada kerosakan akhlak.

Minat anak muda dengan agenda hiburan dan suasana yang memberi ruang kepada pergaulan lepas bebas memang kuat. Contoh artis dan penyanyi di media elektronik dan cetak tidak mewakili watak yang santun, gerak geri tertib dan indah.

Sebaliknya "idola" yang menjadi pujaan ialah memiliki rambut tegak tidak terurus, pakaian mendedah menampakkan susuk dan pusat, pekikan suara yang sudah kehilangan harmoni dan kebingitan bunyi muzik memekakkan telinga.

Keadaan seperti itu tidak membantu untuk melahirkan anak yang santun, tertib serta memiliki disiplin dan akhlak tinggi. Ia tidak menyumbang kepada pembinaan sahsiah contoh.

Pemikiran anak seperti ini tidak akan berkembang. Mentaliti perbualan hanya kepada hal remeh sekitar gosip, kahwin cerai artis dan selebriti SMS. Anak dimatikan hatinya daripada memperlihatkan rasa malu, hormat, patuh kepada ibu bapa dan orang tua. Anak dirangsang minda dan nafsunya untuk menyunsung slogan "hidup muda remaja hanya sekali".

Dewasa ini, kita menghadapi krisis generasi. Ramai remaja yang sedang kehilangan arah dalam kehidupan dan mengalami kecelaruan membuat keputusan. Ada ramai di kalangan generasi muda tidak lagi merujuk kepada ibu untuk mendapatkan nasihat dan beralih kepada rakan sebaya untuk mendapat pedoman.

Ramai di kalangan remaja yang tidak lagi mendengar cakap dan pedoman ibu dan tidak menjadikan ibu sebagai pemberi nasihat, penunjuk jalan atau pun tempat berkongsi masalah.

Justeru, ibu perlu kembali kepada peranan asal sebagai pendidik awal kepada anak. Meniupkan obor kasih dan cinta sayang yang tak kunjung padam. Menjadi tempat rujukan anak di saat perlu.

Sumber teladan terbaik membangun diri. Tempat meluahkan perasaan dan mencari suluh pedoman bila jiwa anak tertekan. Mampu membahagikan masa berkualiti untuk anak.

Berdakwah zaman mencabar harus bijaksana

ALLAH SWT menurunkan wahyu kepada Rasulullah SAW untuk disampaikan kepada manusia. Rasulullah SAW menghazamkan makna al-Quran dalam peribadinya sehingga isterinya, Saiditina Aishah menghubungkan akhlak Rasulullah sebagai akhlak al-Quran.

Dari situ lahirlah qudwah atau contoh untuk dijadikan sumber ikutan manusia. Di samping sifat siddiq dan amanah Rasulullah SAW, Baginda membuktikan menyampaikan (tabligh) kebenaran itu menjadi kewajipan paling utama. Al-Quran tidak diturunkan dalam kekosongan.

Al-Quran turun berdepan dengan hakikat kehidupan manusia. Ayat Makkiyyah atau Madaniyyah turun dalam konteks sosiobudaya, realiti sistem kepercayaan dan gaya hidup yang memerlukan metodologi amat serasi. Di Makkah ayat yang menyentuh aspek akidah menjadi keutamaan dan di Madinah ayat mengenai syariah dan cara hidup menjadi landasan.

Al-Quran adalah mukjizat Allah yang membawa kebenaran untuk difahami dan diterima manusia. Ia adalah amanah untuk disampaikan kepada seluruh manusia. Al-Quran dalam Surah al-Imran, ayat 104, memberikan asas perlu ada sekumpulan manusia menyeru, mengajak, memanggil, melakukan tabligh atau dakwah iaitu menyuruh kepada yang makruf dan mencegah yang mungkar.

Rasulullah SAW juga memberikan pedoman mengenai metodologi dakwah iaitu bijaksana memahami realiti yang ada, berikan hujah terbaik dan jika berlaku perbezaan pendapat, lakukan dengan baik.

Surah al-Asr juga memberikan asas supaya dalam menyampaikan kebenaran, kesabaran menjadi pedoman terbaik. Islam adalah agama dakwah. Rasulullah SAW, sahabat, tabie dan ulama adalah pendakwah serta pendidik. Wujudnya usaha dakwah dengan kegigihan, kebijaksanaan dan pengorbanan di kalangan mereka, menyebabkan Islam sampai ke alam Melayu dan berkembang sehingga ke hari ini.

Kerja dakwah adalah tugas mulia. Realiti masyarakat sifatnya dinamik berubah. Faktor persekitaran dan perkembangan semasa, sama ada dalam ilmu, maklumat, teknologi dan hiburan banyak memberi kesan terhadap gaya serta cara hidup manusia.

Oleh itu, persiapan pendakwah dari segi ilmu, maklumat dan metodologi juga perlu canggih supaya wujud keseimbangan antara faktor menarik dan menolak dengan faktor mengajak mereka kembali ke jalan benar.

Sebagai dai’ dan murabbi, kita tidak boleh lari atau berkecuali daripada keadaan yang ada. Kebijaksanaan harus dicari, metodologi dakwah harus diteroka, kreativiti harus digarap supaya antara faktor yang dinamik berubah mampu diimbangi asas kefahaman Islam yang mampu membimbing manusia ke jalan ilmu dan syarak.

Rasulullah SAW mendekati bapa saudaranya, Abu Talib dengan penuh hemah dan kebijaksanaan. Baginda menyampaikan maklumat terbaik kepadanya. Usaha melakukan yang terbaik adalah tugas dai’ dan murabbi tetapi harus diinsafi bahawa yang memberikan hidayah adalah Allah SWT.

Hakikatnya, cabaran terhadap manusia adalah sama. Pada zaman jahiliyah, jenis manusia adalah ingkar terhadap wahyu Allah. Sifat jahiliyah adalah sifat sepanjang zaman. Keingkaran manusia juga berlaku pada masa kini, malah boleh berlaku pada masa depan. Tanpa dakwah dan tarbiyah, manusia akan bertambah jauh daripada kebenaran.

Yang membezakan zaman lalu dengan zaman kini ialah asas mekanistik yang berbentuk teknologi. Pada hari ini, kekuatan teknologi media cetak, elektronik, sistem komunikasi dan telekomunikasi memberi kesan hebat kepada penonton dan pengguna. Usaha menyampaikan amanah Allah juga memerlukan kecanggihan.

Jika tidak, dakyah atau usaha pihak yang sedang melakukan tipu daya dan penyesatan dalam pelbagai cara akan bertambah subur dan memberi kesan terutamanya kepada generasi muda.

Generasi muda Islam masa kini tidak sama dengan generasi Islam masa lalu. Mereka terdedah dengan perkara baru yang mencabar sehingga setengahnya cair dan hanyut dengan budaya popular Barat yang menyebabkan kerosakan kepada minda, akhlak dan gaya hidup. Jika kerosakan terus berlaku, bayangkan jenis generasi yang bakal lahir bagi menawarkan kepimpinan Islam pada masa depan.

Keadaan itu menuntut ketrampilan pendakwah melakukan tabligh atau dakwah dan tarbiyyah dai di gelanggang. Ada setengah umat Islam semacam putus asa dengan apa yang sedang berlaku dan menyerahkannya kepada takdir. Tetapi, perlu ada di kalangan umat melihat situasi sebegini sebagai cabaran melakukan dakwah.

Sekitar 70-an dan 80-an, dakwah lebih banyak menumpu kepada perubahan pemikiran dan hati. Tetapi, hari ini pendekatan dakwah harus menyesuaikan diri dengan kecanggihan teknologi yang sangat memberi kesan terhadap cara hidup manusia.

Sedikit dakwah yang berlaku kadang-kadang cair dengan dakyah yang berjalan. Ia menyebabkan sebahagian generasi muda menjadi celaru dan keliru kerana dakwah dan dakyah membawa dua sistem nilai berbeza. Yang satu mengajak manusia melakukan kemakrufan dan satu lagi menyediakan jalan kemungkaran.

Dekad terdahulu, kita berdepan dengan masyarakat daif ilmu dan maklumat. Hari ini, kita berhadapan dengan masyarakat berpelajaran, kelas menengah yang semakin meningkat, arus kemewahan dan keselesaan yang ketara. Ia mencabar pendakwah mencari jalan terbaik bagaimana dakwah boleh berjalan.

Jika usaha dakwah diolah dengan bijaksana, sama ada melalui laman web, internet, lama sembang, blog, penghasilan buku dan karya kreatif mahupun melakukan komunikasi menerusi perbincangan, pertukaran pendapat, seminar dan bengkel dan ziarah, ia boleh meningkatkan kesedaran masyarakat terhadap Islam.

Kekuatan peribadi, akhlak bentuk pemimpin mulia


PENDEKATAN bersepadu memberikan kepentingan nilai yang berasaskan agama, budaya dan tradisi yang baik diungkapkan dengan bijaksana dan sifatnya merentasi kurikulum dan kokurikulum.


Dalam konteks masyarakat berbilang kaum, proses kesalingan dan kekenalan atau litaarrafu perlu disuburkan. Ia supaya wujud proses menghargai dan menghormati nilai positif dan perbezaan. Dengannya juga bakal teradun nilai bersama yang menyumbang ke arah pengkayaan hati budi dan tidak bercanggah dengan faktor akidah dan syarak.

Sekiranya pendidikan Islam difahamkan sebagai pendidikan akidah, ibadah dan akhlak semata-mata tanpa melihat kepentingan ilmu alat seperti matematik, sains dan teknologi, pembangunan manusia hanya berlaku dalam konteks kekuatan peribadi dan akhlak serta menafikan pemahaman dan penguasaan ilmu alat.

Sumbangan yang bakal diberikan kepada pembangunan umat tidak akan menyeluruh sifatnya. Hal yang sama juga boleh berlaku apabila pembangunan pendidikan hanya menumpu kepada kekuatan ilmu alat dan melupakan kepentingan nilai. Kita akan melahirkan manusia mekanistik dan robotik yang hilang etika dan kemanusiaan tinggi.

Jalan terbaik ialah mengambil pendekatan integratif yang mampu menggabungkan kedua-dua keperluan utama iaitu kekuatan peribadi dan akhlak serta keunggulan penguasaan ilmu alat. Sekiranya generasi muda Islam memiliki dua kekuatan ini, corak perubahan negara dan umat pada masa depan tentunya berada dalam acuan kita sendiri.

Acuan yang bermaksud pengolahan sistem nilai yang dinamik. Ia juga mampu menjadi asas amalan dan dimanifestasikan dalam jihad ilmu dan pendidikan.

Memang diakui salah satu cabaran terpenting dalam jihad ini ialah memahami konteks perubahan, pembangunan dan kemajuan yang pernah berjalan mengikut perspektif Islam. Begitu juga perubahan, pembangunan dan kemajuan mengikut perspektif semasa yang paksinya ialah pembaratan.

Globalisasi yang sedang berjalan adalah bukti jelas bagaimana hegemoni Barat begitu rancak menjebak umat Islam, khususnya generasi muda. Keadaan itu sehingga menimbulkan persoalan moral dan sosial yang amat menakutkan.

Faktor perubahan adalah sesuatu yang tidak boleh dielakkan. Ia adalah fitrah dalam kehidupan dan tamadun umat manusia. Suatu ketika dulu kegemilangan tamadun berpusat di Andalusia dan Baitul Hikmah. Ia dilambangkan dengan kekuatan ilmu yang integratif dan menjadi rujukan Barat dan Timur lebih 600 tahun. Selepas kejatuhan Baghdad dan Andalusia, kebangkitan Barat semakin terserlah. Mereka melakukan misi penjajahan serta pengembangan ilmu dan pendidikan yang tidak lagi bertunjangkan nilai murni. Sebaliknya, mewujudkan faham orientalisme yang meremehkan Timur dan Islam.

Globalisasi kini adalah mercu tanda penguasaan Barat terhadap Timur dan Islam. Ia menyebabkan Timur dan umat Islam menjadi pengkagum dan pengguna setia terhadap produk Barat dalam pelbagai bentuk.

Dalam konteks umat Islam, nostalgik atau kagum terhadap kehebatan silam harus didukung dengan upaya strategik memahami faktor semasa. Hal ini supaya ia releven dengan tuntutan sezaman dan cabaran lingkungan.

Mengagumi model masyarakat madani yang dibina oleh Rasulullah SAW di Madinah, umpamanya, mestilah dalam pengertian yang amat mendalam terhaadap roh, semangat dan prinsip yang di tinggalkan oleh Rasulullah SAW. Hal ini supaya ia mampu diterjemahkan dalam realiti yang sudah berubah.

Memahami perubahan dalam konteks Islam merujuk kepada perubahan bentuk, bukannya isi. Maksud atau maqasid daripada perubahan selalunya tidak berubah. Pada zaman Rasulullah SAW, unta, kuda dan keldai digunakan sebagai alat kenaikan dan pengangkutan. Pada hari ini kereta, lori dan jet digunakan sebagai alat kenaikan dan pengangkutan. Perubahan kepada bentuk ini tidak boleh dielakkan kerana perkembangan ilmu, penyelidikan dan kemajuan teknologi terus berlaku. Tetapi, maksud perubahan ini tetap tidak lari daripada maqasid utama pengangkutan iaitu bagi kepentingan penumpang dan membawa barangan.

Hal yang sama juga dalam prinsip riba yang menjadi pedoman muamalah, jual-beli dan perdagangan dalam Islam. Pada zaman Rasulullah SAW transaski berlaku secara tukaran barangan dengan mengekalkan amalan tanpa riba. Pada masa ini proses transaksi berlaku dengan lebih canggih. Pewujudan Bank Islam dan Takaful Islam, umpamanya, berjalan menggunakan mekanisme semasa tetapi larangan terhadap riba tetap dipatuhi. Perubahan transaksi berubah dari segi bentuknya.

Antara strategi utama yang boleh mencapai matlamat mengisi perubahan ialah dengan melakukan proses pengIslaman ilmu. PengIslaman ilmu adalah suatu tuntutan bagi menghadapi globalisasi.

Kepemimpinan, Dakwah Perlu Dimensi Baru

KEDATANGAN tahun baru 2005 memberi kesempatan manusia bermuhasabah atau menilai diri. Proses ini amat penting supaya kita boleh mengetahui sejauh mana kemajuan diri dalam strategi menyumbang ke arah peningkatan kualiti bangsa dan umat.

Bagi warga umat yang insaf akan cabaran terhadap agama, lazimnya mengambil kesempatan menilai kelemahan silam dan merancang kekuatan hari muka.

Isu pokok bagi kita adalah keengganan berperanan sebagai dai dan murabbi atau pendakwah serta pendidik yang sentiasa mempunyai tekad mengajak atau menyeru manusia kepada yang makruf atau baik dan mencegah yang mungkar atau buruk.

Tugas seorang dai dan murabbi amat mulia. Sekiranya dalam masyarakat tidak lagi wujud dai dan murabbi yang menyampaikan sesuatu yang hak dengan kesabaran, tidak mungkin masyarakat dapat dipertahankan kekuatannya mencintai dan menghayati agama.

Kerenah manusia kini amat mencabar iltizam dai dan murabbi. Oleh itu, tahun yang berlalu mengajak dai dan murabbi merenung sejauh mana dengan ilmu yang ada, pendakwahan dan proses mendidik yang berlalu berjaya menarik perhatian sebilangan anggota umat terhadap pentingnya menjaga imej agama. Begitu juga dalam memelihara martabat umat supaya keunggulan Islam itu terlihat pada akhlak, pekerti dan amalan penganutnya.

Pada tahun mendatang ini, mereka tentu mempunyai tekad untuk melipat gandakan usaha dan perancangan untuk menyuburkan kesedaran Islam serta mengajak dan mendidik manusia kembali menghayati agama fitrah ini. Mereka tentu ada tekad untuk mengajak umat Islam berasa syukur menjadi seorang Islam yang mempunyai jiwa muttaqin.

Seorang ibu dan ayah pula harus ada keazaman menilai gelagat anak-anak sama ada kecenderungan mereka terhadap yang baik atau sebaliknya. Keinsafan ini harus membangunkan tekad baru ayah dan ibu untuk mengekalkan kebaikan yang ada pada pekerti anak-anak dan mengatasi gelagat buruk sekiranya ada.

Anak-anak adalah penerus perjuangan ibu dan ayah. Jangan biarkan anak-anak tewas dalam pertarungan zaman remaja dan mudanya hingga sebilangan besar mereka menjadi warga ‘Pusat Serenti’. Kasihani mereka yang belum matang memahami makna hidup dan kerenahnya. Jangan biarkan mereka terjebak dalam kemelut sosial dan menjerumuskan mereka ke lembah pergaulan yang tidak terbatas.

Seorang guru pula harus memiliki keinsafan bahawa generasi terbaik yang mempuyai ilmu dan sahsiah tinggi perlu dibentuk. Hal ini supaya generasi berpotensi ini berupaya menyumbang terhadap kemajuan diri, bangsa dan umatnya.

Bayangkan kalau anak didik ini termasuk ke dalam golongan orang yang tercicir. Negara dan umat bakal diwarisi dengan beban manusia yang bukan saja tidak menyumbang ke arah kemajuan negara dan umat, malah terpaksa menyediakan peruntukan banyak bagi mengambil langkah pemulihan yang tidak ada batas tepinya.

Anak didik memerlukan kasih sayang dan perhatian jernih di kalangan pendidik yang jujur dan ikhlas. Lihatlah mereka seumpama anak sendiri yang dahagakan ilmu dan bimbingan supaya menjadi manusia berguna terhadap bangsa, umat dan negara.

Seorang penerbit atau penulis dalam media cetak dan elektronik harus memiliki keinsafan mendalam. Mereka perlu dapat bertanya kepada diri terhadap sumbangan yang dilakukan terhadap program penerbitannya. Adakah ia menyumbang ke arah memberikan maklumat berguna kepada warga penonton atau berorientasikan hiburan yang mendidik atau drama yang memberikan kesedaran teladan? Adakah ia tidak lebih mengisi ruang menepati sasaran pulangan komersial tanpa mempedulikan nilai kesantunan dan teladanan mendidik berguna? Adakah ia menyebabkan generasi muda dirangsang ke arah pemikiran berfoya-foya hingga akhirnya menjebak mereka dalam suatu kemelut tingkah laku yang juga membebankan negara dan umat?

Begitu juga seorang penulis harus insaf terhadap bahan yang ditulisnya. Apakah yang ditulis menyatakan kebenaran dan kebaikan secara bijaksana? Atau ia adalah sensasi murahan untuk menimbulkan keasyikan, ketahyulan dan rasa 'idola' tinggi terhadap manusia popular hingga wujud kelekaan yang parah terhadap tanggungjawab mendidik bangsa dan umat.

Penerbit dan penulis dalam cabaran media cetak dan elektronik amat penting menyumbang secara bersama ke arah meneguhkan peribadi umat dan mempertangkas keupayaannya untuk terbabit dalam arus perjuangan menempuh gelombang perubahan yang amat mencabar.

Keutuhan dan kekuatan sesuatu bangsa dan umat banyak bergantung kepada kekuatan ilmu serta nilai murni yang mampu dikembang secara kreatif dan bijaksana. Begitu juga dipertahankan secara berhemah dan berhikmah.

Kita dahagakan bahan penerbitan bersifat mendidik, di samping terhibur. Kita juga mahukan bahan tulisan yang meningkatkan kualiti diri dan maklumat, yang menjadikan mereka lebih insaf, sedar dan matang terhadap tanggungjawab bina-bangsa dan umat.

Seorang ketua atau pemimpin tentunya melihat silih gantinya tahun sebagai titik-renung dan fikir terhadap kesejahteraan pengikut dan rakyat.

Umat Islam memerlukan kepemimpinan telus dan tulus serta amanah. Tidak ada syarat lain yang boleh dijadikan landasan dalam memberi khidmat terbaik, melainkan dengan keinsafan yang cukup mendalam terhadap rintihan bangsa dan umat yang mahukan kepemimpinan teladan. Mereka mahukan pemimpin yang sentiasa mempunyai tekad membangunkan bangsa atas jalan bijaksana dan membangunkan umat atas amanah terhadap Tuhannya.

Pada tahun baru ini, kita harus memupuk kesedaran yang mendalam bahawa tidak ada jalan singkat untuk maju dan membangun, apalagi menjadi contoh kepada orang lain.

Jalan yang berliku di hadapan kita harus mampu dilalui dengan ilmu yang meningkat; teladan diri yang dapat dicontohi; ketelusan terhadap amanah dan ketulusan dalam melaksanakan tanggungjawab. Mereka hendaklah sentiasa meletakkan kepentingan bangsa dan umat mengatasi kepentingan peribadi dan kelompok berpandukan keredaan Allah dan teladan Rasulullah.

Akhlak penentu darjat kemuliaan manusia

AKHLAK adalah mutiara yang sangat bernilai dan penting bagi manusia. Ia mempunyai harga dan cahaya yang menambahkan kecantikan. Tanpa akhlak, manusia hilang harga diri dan tidak dihormati.

Dalam tradisi Islam, akhlak tidak sama dengan moral. Moral, bahasa latinnya 'mores' membawa makna nilai amalan yang normatif atau lazim berlaku dan menjadi amalan semasa.

Akhlak mempunyai makna lebih luas iaitu zahir batin yang merujuk kepada 'Khuluq al-Quran' atau 'akhlak al-Quran'. Ia menjadi rujukan akhlak Nabi Muhammad SAW seperti disebutkan isterinya Saidatina Aishah.

Moral biasanya amalan serta penampilan baik dilakukan dan sifatnya berubah-ubah. Amalan gay dan lesbian yang berlaku di Barat suatu ketika dulu dianggap salah, tetapi hari ini ia sudah diterima sebagai sesuatu yang lazim.

Akhlak berasaskan al-Quran membawa nilai yang tetap dan fitrah kerana Islam menjaga kemaslahatan manusia di mana asas kesejahteraan menjadi kuncinya. Meminum arak, berjudi, bertenun nasib, berzina umpamanya adalah amalan tidak berakhlak.

Pedoman al-Quran itu tidak akan berubah disebabkan faktor masa dan zaman kerana ia berkaitan pekerti buruk yang boleh merosakkan kesejahteraan hidup manusia walaupun majoriti manusia memilih jalan itu.

Akhlak dalam tradisi Islam tidak difahamkan dengan maksud yang terbatas melalui penampilan tingkah laku, budi bahasa dan tutur kata saja. Ia sebenarnya berkait dengan komitmen amal seseorang.

Apabila akhlak Rasulullah SAW digambarkan sebagai akhlak al-Quran, ia bermakna ajaran al-Quran itu hidup pada diri, cerminan pada peribadi dan amalannya. Akhlak al-Quran tidak saja mengajar umat beriman mengenai tauhid dan takwa, tetapi menampilkan watak amali mendukung makna tauhid dan takwa dalam amalan serta perbuatan.

Tauhid mendidik manusia yakin bahawa Allah itu Maha Berkuasa dan Perkasa, Dialah Pencipta dan Pentadbir Alam ini. Jika ada manusia mempunyai pendirian bahawa dirinya maha berkuasa, penentu akan segala, maka terlihat pada dirinya ialah sifat zalim, angkuh dan sombong yang bercanggah dengan akhlak Islam.

Takwa memberi makna mengenai insaf-ketuhanan yang tinggi dan ukuran kepada kecemerlangan amal. Al-Quran dalam surah al Hujurat, ayat 13, memberikan asas bahawa, "kemuliaan manusia itu berlandaskan takwa."

Insaf-ketuhanan adalah kunci perlakuan seseorang. Apabila manusia bertakwa ingin melakukan sesuatu dan meyakini bahawa orang lain tidak melihatnya, tetapi Allah melihatnya, pada dirinya sudah wujud daya kawalan dan pedoman menyebabkan ia berada dalam sikap serta pendirian terpandu. Natijah perbuatan dan amalannya akan menjadi baik dan memberi kesejahteraan kepada yang lain.

Akhlak Rasulullah SAW terlihat pada kesabaran dan jihad ilmunya yang tinggi. Seorang perempuan Yahudi yang berasa tidak senang dengan Rasulullah SAW yang membawa risalah tauhid membalingnya dengan sampah setiap kali Rasulullah SAW lalu depan rumahnya.

Ia membayangkan kebencian amat sangat terhadap diri Rasulullah SAW yang membawa risalah kebenaran. Rasulullah SAW sabar menghadapi kerenah itu kerana hakikatnya ia tidak tahu maksud risalah yang dibawa.

Suatu hari perempuan itu sakit dan tidak lagi membaling sampah apabila Rasulullah SAW lalu di hadapan rumahnya. Rasulullah SAW berhenti di rumah jiran perempuan itu dan bertanya khabar mengenai dirinya. Lalu dikatakan beliau sedang sakit.

Rasulullah SAW meminta izin menziarahinya. Amat terkejut perempuan Yahudi itu terhadap pekerti mulia seorang manusia yang amat dibencinya menziarahi ketika dirinya sakit. Akhlak Rasulullah SAW memikat perempuan Yahudi itu lalu memeluk agama Islam.

Akhlak Rasulullah SAW juga terlihat dalam binaan jemaah di Madinah dan mengendali halaqah untuk menyebarkan kefahaman serta amalan mengenai ilmu al-Quran. Walaupun Rasulullah SAW seorang yang buta huruf, komitmen terhadap ilmu begitu besar sekali.

Islam perlu didukung dengan kekuatan ilmu. Al-Quran adalah sumber ilmu daripada Allah untuk memberi petunjuk kepada manusia khususnya orang yang bertakwa.

Amal Islami tanpa dukungan ilmu menjadikan Islam longgar dan kosong. Diturunkan wahyu kepada manusia menjadikan manusia terpedoman dan memiliki petunjuk memahami hakikat sesuatu yang nyata dan mengetahui mengenai yang ghaib.

Oleh itu, kepentingan akhlak bagi manusia ibarat mutiara yang sangat berharga. Hari ini mutiara itu semakin hilang. Tingkah laku manusia sudah menjadi kaca dan pasir yang tidak memberi cahaya lagi. Faham diri dan individualistik menjadi nyata dan fahaman kebendaan, nafsu-nafsi menjadi ikutan.

Manusia akhirnya bakal kehilangan cahaya dan perlakuan manusia tidak lebih lanjutan sifat haiwani yang hidup kerana perut dan nafsu. Yang lahir daripada perut itu adalah gambaran yang diburu dan dicari tanpa pertimbangan akhlak yang membawa kemuliaan manusia di sisi Penciptanya dan kemuliaan manusia sesama manusia.

Akhlak adalah cerminan diri kerana daripadanya manusia memiliki contoh dan teladan. Ibarat cermin yang bersih dan berkilau, manusia mampu melihat diri dengan jelas. Pantulan wajahnya mampu memperlihatkan dirinya secara telus.

Cermin yang berdebu dan hilang kilauannya menyebabkan kekaburan pada wajah dan diri. Akhlak yang baik adalah sesuatu yang boleh diteladani kerana memang fitrah manusia ingin meneladani contoh yang baik daripada orang lain.

Keseimbangan Penting Dalam Mendidik

ANAK-ANAK memiliki naluri mencontohi. Contoh dan teladan boleh membentuk sikap dan watak anak dan yang paling dekat pada tahap awal kehidupan anak ialah ibu bapa.

Ibu bapa sumber teladan yang penting dengan teladan baik boleh menjadikan anak membesar dalam keadaan baik, manakala teladan buruk menyebabkan perkara negatif berlaku kepada anak. Sumber teladan ibu bapa tidak saja dalam cara bercakap dan berbahasa, tetapi juga cara melakukan sesuatu. Anak pemerhati dan pengamat setia terhadap apa yang berlaku di sekitarnya. Memperlihatkan wajah ceria, bahasa santun dan merangsang, belaian dan kemanjaan menjadikan anak berada dalam keadaan fitrah.

Anak sedang bertatih dalam keremajaan dan pendewasaan amat memerlukan sumber kondusif dan membantu ke arah minda aktif, emosi ceria serta kecergasan membawa kepada kesihatan jasmani.

Kelembutan berbahasa adalah asas kepada pembinaan adab kerana cara berbahasa dengan isteri dan suami dalam suasana ceria dan kasih sayang menjadikan sumber contoh terbaik bagi anak. Bahasa santun, komunikasi ramah, wajah ceria adalah sumber bernilai bagi anak kerana suasana ini menyebabkan teladan itu menjadi sumber ikutan.

Sekiranya wujud perselisihan antara suami isteri, ia tidak ditunjukkan di depan anak jauh sekali melafazkan kata bersifat maki hamun atau sumpah seranah yang tidak menyumbang teladan baik kepada mereka. Di sini pentingnya daya kawalan diri kerana setiap gerak geri dan perbuatan dilakukan ibu bapa memberi kesan kepada anak yang berada dalam tahap mempelajari sesuatu. Ibu bapa adalah sumber terdekat bagi mereka atau guru yang awal mendidik dan sebagai pendidik, jiwa mendidik perlu subur di kalangan ibu bapa. Anak selalunya terdedah kepada pengaruh media, rakan sebaya, suasana sekolah dan juga mula memerhati kerenah manusia serta gelagat masyarakat.

Komunikasi dan dialog dengan anak seharusnya berlaku dengan berbagai cara kerana anak mungkin bertanya sesuatu yang dilihat, dibaca dan ditonton kepada ibu bapanya. Oleh itu, ibu bapa perlu bijak dan sabar memberikan penjelasan supaya fikiran serta perasaan anak terbimbing ke arah kebaikan. Sekiranya bimbingan dan perhatian rapi tidak diberi, sumber yang ditonton, dilayari, dibaca dan dilihat boleh memberi kesan negatif kepada jiwa dan pemikiran anak.

Kaedah ambil tahu, perkongsian pemikiran serta pandangan secara mendidik seharusnya berlaku supaya anak sentiasa mendapat pedoman yang betul dan baik. lace w:st="on"Ada lace ketikanya anak melakukan kesilapan, keterlanjuran melampaui batas dan menampilkan gelagat negatif.

Pada tahap ini, ibu bapa harus mendekati anak dengan sabar dan berjiwa mendidik. Jangan biarkan perkara negatif menjadi tabiat dan kelaziman, sebaliknya perlu dibendung sebelum subur atau merebak dalam tingkah laku anak. Ibu bapa juga perlu sedia menegur dengan bijaksana, melakukan pembetulan terhadap apa yang berlaku, berbincang secara sihat, berikan alasan dan pemikiran yang baik kepada mereka supaya wujud kesedaran untuk tidak melakukan kesilapan itu lagi.

Dalam proses mendidik dan memberi teladan baik perlu ada keseimbangan kerana ada ibu bapa beranggapan tanggungjawab membesarkan anak ialah dengan menyediakan makan, pakaian dan keperluan kewangan yang stabil. Apa yang lebih penting bagi anak ialah kasih sayang, belaian, perhatian serta bimbingan kerana pembentukan sikap, watak dan gelagat mereka banyak bergantung kepada kaedah ini.

Ini tidak bermakna makan pakai dan kewangan tidak penting tetapi tanpa keseimbangan, tidak mungkin ibu bapa mampu menjadi sumber teladan sempurna. Tanpa teladan baik ibu bapa, anak kehilangan pedoman diperlukan dalam proses pembesaran dan pendewasaan menyebabkan mereka tercari-cari sumber lain yang belum tentu baik. Rasulullah SAW adalah sumber teladan terbaik bagi umat Islam dan bagi ibu bapa yang mencontohi Baginda sebagai sumber teladan, mereka akan menjadi contoh terbaik kepada anak.

Kecelaruan menimpa diri anak muda kini disebabkan tiadanya sumber teladan di rumah khususnya di kalangan ibu bapa menyebabkan anak seakan terbiar dan terdedah kepada pengaruh yang memberi contoh tidak baik. Anak yang terpengaruh dengan perkara negatif tidak mudah untuk diubah dan Islam mengambil pendekatan mencegah lebih baik daripada mengubati. Pencegahan menerusi didikan, asuhan, bimbingan dan sumber teladan adalah kaedah terbaik supaya anak melalui zaman remaja dan dewasa dalam suasana baik, fitrah serta memiliki kekebalan daripada nilai negatif.

INTI PATI
Peranan ibu bapa

· Sumber teladan tidak saja dalam cara bercakap dan berbahasa tetapi juga cara melakukan sesuatu.

· Bahasa santun, komunikasi ramah, wajah ceria adalah sumber bernilai bagi anak kerana suasana ini menyebabkan ia menjadi ikutan.

· Ibu bapa sumber terdekat bagi mereka atau guru yang awal mendidik dan sebagai pendidik.

· Ibu bapa perlu bijak dan sabar memberikan penjelasan supaya fikiran serta perasaan anak terbimbing ke arah kebaikan.

Dakwah penuh kasih, bijaksana paling berkesan

Empat strategi sebar Islam dalam masyarakat majmuk perlu berlandaskan keharmonian


PELBAGAI orientasi dakwah digerakkan hari ini dalam usaha meningkatkan kesedaran dan penghayatan Islam. Ada memilih orientasi heararki (gerakan), siasi (politik), orientasi tabligh dan sufi bagi mencapai keberkesanan dalam kefahaman dan amal Islam.

Di samping jemaah sukarela, peranan lembaga kerajaan juga aktif menghidupkan suasana dakwah di samping menghasilkan institusi seperti bank, kewangan, takaful, institusi pengajian tinggi, menengah dan rendah.

Perkembangan ini menjadi lebih baik jika wujud penyelarasan pada setiap peringkat dan pihak bahawa skop dakwah tidak sekadar seruan dan ajakan secara lisan, sebaliknya dakwah juga pada lembaga serta institusi yang menyalurkan nilai serta etika Islam.

Namun, ada orientasi sukarela menyandarkan dakwah kepada jemaah atau gerakan di luar negara yang cabaran serta masalah tidak sama di negara kita. Malaysia adalah negara unik yang memerlukan kaedah sesuai dengan latar belakang sejarah, sosioekonomi dan pentadbirannya.

Bagaimanapun, ini tidak bermakna tiada persamaan antara Mesir dan Indo-Pakistan dengan Malaysia tetapi mengambil pendekatan ala Malaysia dalam dakwah perlu kerana orientasi masyarakat majmuk, kebebasan serta pengaruh Islam dalam sistem.

Pendekatan dakwah ala Malaysia mengambil kira peruntukan Islam dalam perlembagaan khususnya yang ada dalam bidang kuasa negeri di samping ruang untuk melaksanakan kegiatan dakwah secara bijaksana.

Sejarah perkembangan dakwah Islam sejak zaman Melaka hingga kini dan pendekatan dinamik yang perlu ada bagi badan dakwah melihat kepada potensi umat Melayu serta bukan Melayu atau bukan Islam.

Rasulullah SAW menganjurkan suatu dustur (kaedah) dakwah yang terbaik iaitu: "Serulah ke jalan Tuhanmu secara bijaksana dengan pekerti teladan yang baik, hujah terbaik dan meyakinkan". Dustur dakwah itu sesuai dalam realiti Malaysia.

Sebagai dai dan murabbi, di depannya ada potensi orang yang hendak didakwahkan pada segala peringkat dan latar belakang. Harus diteroka jalan bijaksana supaya risalah kebenaran dapat disampaikan di samping kehidupan rohaniah dijadikan pedoman.

Pertama, perlu ada sifat kasih sayang dan belas kasihan yang tinggi terhadap orang yang hendak di dakwah. Berdakwah dengan memberikan label dan sindiran boleh menyebabkan sasaran lari dan tidak tertarik dengan cara diambil.

Kita harus menginsafi tidak semua orang memiliki latar pendidikan dan binaan keluarga yang baik. Sesetengah yang ingin didakwah adalah orang yang cicir dalam keluarga, mengalami kelompangan hati serta kekeliruan minda. Orang seperti ini mudah terdedah kepada kemungkaran kerana tidak memiliki kesedaran rohaniah.

Kedua, apabila melihat kemungkaran atau perkara tidak baik dilakukan seseorang, perbuatan itu tidak kita sertai. Namun, jauh dalam lubuk hati kita terpancar rasa belas kasihan terhadap apa yang berlaku. Lalu datang gerak hati untuk mendekatinya dengan bijaksana.

Jika pendekatan itu dilakukan bagi mengajaknya kembali ke jalan yang benar, kemungkinan ia akan kembali kepada fitrah hidup semula. Jika kejayaan ini ada, bermakna ia tidak lagi terus melakukan kemungkaran, sebaliknya sudah bersama dengan kita hidup dalam makruf.

Ketiga, berdakwah perlu ada persiapan. Faham akan sasaran, tingkat pemikiran, rasa kesabaran dan kebijaksanaan seperti teladan diri yang baik dan tidak mudah berputus asa. Harus ada sikap setiap yang ingin didakwah ada potensi untuk berubah.

Keempat, kuasai ilmu pengetahuan dalam pelbagai bidang khususnya ilmu Islam kerana cabaran yang menghadapi masyarakat kini tidak saja rohaniah sifatnya, malah perkembangan ilmu yang menjangkau ke daerah sains dan teknologi.

Ilmu ini harus diolah dengan bijaksana bermula dengan mengukuhkan akidah dan iman, ibadat dan syariah supaya terhasil akhlak yang baik.

Pendekatan dakwah Malaysia bukan sekadar menimbulkan keinsafan pentingnya akhlak mulia disuburkan tetapi dengan kekuatan ilmu dan ketrampilan, ia mungkin memberikan arah pemahaman yang betul mengenai seni dan budaya supaya kemajuan berlaku sentiasa dalam acuan yang makruf.

Pendakwah dan pendidik harus sentiasa memiliki sikap berlapang dada menerima kritik serta teguran. Jangan mengambil pendekatan radikal yang tidak serasi dengan resam budaya masyarakat dan boleh menyebabkan gerak kerja dakwah menjadi fitnah.

Al-Quran memberikan asas yang mantap mengenai jenis manusia yang ingin kita suburkan. Firman Allah bermaksud: "Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada makruf dan mencegah yang mungkar dan beriman kepada Allah." (Surah al-Imran, ayat 110)

Ada tiga asas penting dalam ayat ini memberikan pedoman dakwah iaitu pertama, harus diwujudkan kebaikan dalam hidup ini ibarat pohon yang tumbuh dalam kehijauan daun dan kelebatan buah supaya manfaatnya dirasakan yang lain.

Makruf tidak hanya terpancar dalam pekerti diri yang memiliki teladan boleh dicontohi, tetapi mampu tegak dengan kekuatan ilmu yang dapat mengaturkan sistem. Memiliki ilmu muamalah didukung prinsip syariah bakal menjauhkan umat terbabit riba. Ia menuntut tekad politik dan keusahawanan yang tinggi supaya umat terus berada dalam keadaan makruf.

Kedua, tentangan terhadap makruf dilakukan dengan menyuburkan perkara makruf sebanyak mungkin. Jika generasi muda kini ketagih dengan budaya popular Barat, tekad yang tinggi dan kreatif di kalangan ulama, ilmuwan, seniman dan karyawan Islam memberikan alternatif, kemungkinan kecenderungan terhadap kemungkaran dapat dikurangkan.

Bagaimana genre pantun, syair, nazam, qitah, gurindam dan seloka dengan bijaksana dan kreatif disuburkan dan menjadi minat generasi muda membawa mesej mengembalikan mereka ke arah yang lebih fitrah.

Ketiga, maksud beriman kepada Allah tidak hanya membina rasa percaya tetapi keyakinan dan kepercayaan yang didukung oleh ilmu. Tidak dinamakan seseorang itu beriman jika asas percaya yang menyebabkan niat dan perbuatannya menyimpang daripada yang diniatkan.

Syahadahnya lain tetapi pancaran syahadah tidak membayangkan ia percaya mengenai kewujudan dan keperkasaan Allah. Lebih-lebih lagi jika menganut Islam dengan sentimen atau emosi semata-mata.

Orang beriman bukan saja percaya tetapi asas kepercayaan kepada Allah mendorongnya untuk berfikir dan memerhati, mengkaji dan mengakui bahawa Maha Besar dan Perkasa Allah menjadikan alam ini dengan limpahan rahmat dan nikmat.

Dalam keadaan kini amat penting kefahaman pendakwah digilap dan kecerdasan strategi dilakukan supaya umat Islam sentiasa bertindak balas kepada keunggulan tamadun silam dan futuristik terhadap kemajuan serta perubahan yang berlangsung.

Ia bukan perjuangan mudah kerana kehebatan Islam tidak saja dilihat pada ajarannya, malah diukur daripada kecemerlangan diri dan gerak kerja penganutnya yang sentiasa mempamerkan teladan tinggi dan mampu menjadi sumber ikutan terhadap yang lain.

Inilah sebenar risalah nubuwwah supaya Islam mampu dicernakan sebagai agama mendukung maksud rahmat untuk sekalian alam.

Islam galakkan semangat toleransi, nilai sejagat

KEPEMIMPINAN dalam masyarakat pelbagai bangsa adalah satu amanah yang rumit. Kepelbagaian dalam agama, bangsa dan budaya memerlukan pendekatan bijaksana supaya kepemimpinan yang ditawarkan mendukung faktor menyatukan.

Keupayaan Rasulullah SAW melaksanakan Piagam Madinah dalam situasi masyarakat berbilang menjadi contoh terbaik bagaimana faktor teras mendasari corak kepemimpinan yang mampu mendukung kerjasama dan persefahaman.

Maksud faktor teras ialah bagaimana elemen agama atas tunjangan nilai membina landasan kerjasama yang tinggi ke arah cita-cita menyatupadu. Yang berbeza akan tetap berbeza, tetapi perbezaan yang ada didekati secara bijaksana. Cita-cita seperti amanah kepemimpinan, kebebasan menyatakan sudut pandangan, jaminan hak dan layanan, asas keadilan dan kesaksamaan sentiasa terpelihara.

Kepemimpinan di Malaysia memerlukan faktor teras dipertahankan. Faktor teras bermaksud bagaimana faktor sejarah, budaya, bahasa, agama dan kelainan dijadikan sandaran utama dalam membangun kepemimpinan berwibawa.

Berwibawa di sini bermaksud bagaimana Islam umpamanya mampu menawarkan nilai sejagat yang dapat dikongsi oleh semua. Nilai lain yang terpancar daripada tamadun yang mendukung nilai kemanusiaan tinggi harus disuburkan sama.

Berwibawa juga merujuk kepada pemimpin yang berilmu dan memiliki upaya profesionalisme tinggi, memiliki peribadi contoh yang memancarkan teladan baik, tidak hanya berfikir dalam lingkungan kaumnya semata, tetapi mempunyai kemampuan memperluaskan dimensi kemanusiaan tidak bercanggah dengan fitrah manusia.

Kepemimpinan di kalangan umat Islam sering berlegar di kalangan kaumnya dalam lingkungan setempat dan kurang upaya memancarkan nilai sejagat Islam dalam melaksanakan taklif atau amanah yang tercermin nilai keadilan serta kesaksamaan terhadap yang lain.

Kepemimpinan Islam yang diperlukan kini memberi fokus terhadap pemantapan nilai bersama yang tidak bercanggah dengan fitrah dan bagaimana asas nilai itu dibangunkan dalam sistem supaya penterjemahannya ke dalam sistem membawa asas keadilan serta kesaksamaan yang tinggi.

Upaya itu perlu melampaui batas kaum yang sempit, mengiktiraf wujudnya kepelbagaian dan memahami pentingnya tolak ansur serta kesabaran tinggi asal saja kemurnian nilai yang menyatupadu tidak tercemar.

Kepemimpinan Islam tidak saja mempunyai latar kefahaman terhadap idealisme yang sifatnya memandu, tetapi upaya melaksana yang tinggi supaya Islam tidak hanya terpancar dalam semangat serta kata-kata indah semata-mata, tetapi terlihat keindahannya dalam peribadi dan sistem.

Islam sebagai faktor menyatupadu perlu diungkapkan dalam pengertian wujudnya kepelbagaian dan kelainan dalam strategi binaan kaum serta bangsa supaya tidak lari daripada kepentingan untuk berkenal-kenalan.

Kesediaan mempelajari sesuatu yang positif daripada orang lain dan mengemukakan sesuatu yang positif daripada budaya sendiri penting supaya pengertian dan persefahaman pentingnya kepemimpinan berilmu dan berakhlak dijadikan rujukan teras untuk kejayaan proses kepemimpinan.

Umat Melayu yang kebetulan diberikan amanah kepemimpinan perlu menjadi pemimpin teras yang mempunyai wibawa ilmu dan kebijaksanaan yang perlu dikembangkan dan perubahan diraikan. Faktor ini penting difahami kerana daripadanya bakal lahir pendekatan kepemimpinan bersifat merentasi.

Kepemimpinan bukan Melayu perlu menerima asas yang boleh membawa kepada titik persefahaman tinggi bahawa faktor etika dan nilai dapat mengukuhkan kualiti amanah dan keadilan, mengurangi perbezaan dan menyuburkan persamaan, daya toleransi tinggi sebagai cara menyatupadu.

Malaysia memerlukan kepemimpinan yang mampu menjalin serta memperkukuh integrasi dan toleransi. Integrasi dipupuk dalam konteks nilai bersama yang boleh dikongsi dan nilai sejagat yang boleh diterima.

Toleransi bermakna perbezaan yang ada tidak dijadikan asas untuk berkonflik, tetapi persamaan yang banyak harus disuburkan secara sedar supaya kebaikan daripada nilai bersama yang dikongsi boleh menghilang perbezaan akibat kejahilan dan prasangka.

Oleh itu, kepemimpinan yang mempunyai kualiti menyatupadu amat dituntut supaya jenis pembangunan dan perubahan ingin dilakukan mengambil kira pertimbangan masyarakat yang berbilang dan dalam masa sama menyuburkan maksud amanah, keadilan, kesaksamaan dan toleransi dalam hal yang tidak menjejaskan nilai murni yang boleh membawa kebaikan kepada semua.

Pada prinsipnya memang Islam menganjurkan konsep berkenal-kenalan dengan bangsa serta tamadun lain. Sari pati budaya dan tradisi yang baik dan sesuai daripada orang lain harus dapat disesuaikan supaya menjadi elemen mengukuhkan lagi kesuburan tamadun.

Sejarah silam tamadun Islam terbukti berfaedah untuk Barat dan Timur. Betapa tradisi itu dapat dijadikan strategi menyatupadu supaya realiti yang pelbagai mampu didekati dengan bijaksana kerana matlamat akhir konteks bina negara ialah sikap saling menghargai dan melaksanakan sesuatu demi kebaikan semua.

Intipati

Keupayaan Rasulullah SAW melaksanakan Piagam Madinah dalam situasi masyarakat berbilang menjadi contoh terbaik bagaimana faktor teras mendasari corak kepemimpinan yang mampu mendukung kerjasama dan persefahaman.

Kepemimpinan di Malaysia memerlukan faktor teras dipertahankan. Faktor teras bermaksud bagaimana faktor sejarah, budaya, bahasa, agama dan kelainan dijadikan sandaran utama dalam membangun kepemimpinan berwibawa.

Pemimpin yang berilmu dan memiliki upaya profesionalisme tinggi, memiliki peribadi contoh yang memancarkan teladan baik, tidak hanya berfikir dalam lingkungan kaumnya semata, tetapi mempunyai kemampuan memperluaskan dimensi ke-manusiaan tidak bercanggah dengan fitrah manusia.

Kepemimpinan Islam tidak saja mempunyai latar kefahaman terhadap idealisme yang sifatnya memandu, tetapi upaya melaksana yang tinggi supaya Islam tidak hanya terpancar dalam semangat serta kata-kata indah semata-mata, tetapi terlihat keindahannya dalam peribadi dan sistem.